Tag Archives: ekonomi

Efisiensi Ekonomis dan Teknis Pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)

Share

Pembaca budiman, dalam artikel ini akan dibahas tentang Efisiensi Ekonomis dan Efisiensi Teknis Pada Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Akan dibahas terlebih dahulu tentang pengertian Efisiensi. Pengertian Efisiensi. Efisiensi adalah perbandingan output dengan input, atau jumlah output per unit input. Efisiensi berkaitan dengan penggunaan sumberdaya dalam rangka mencapai tujuan. Suatu aktivitas dapat dikatakan efisien apabila dapat memperoleh hasil yang sama dengan aktivitas lain tetapi sumberdaya yang digunakan lebih sedikit. Tingkat efisiensi diukur menggunakan indikator yang dihitung dari rasio nilai antara nilai tambah (value added) dengan nilai output. Semakin tinggi nilai rasio tersebut semakin tinggi tingkat efisiensinya. Adapun efisiensi ekonomis dan efisiensi teknis menurut Soekartawi (2002) sebagai berikut :

 
Share

Permukiman, Sarana dan Prasarana

Share

Definisi Permukiman

Permukiman berasal dari kata housing dalam bahasa inggris yang artinya perumahan atau dengan kata lain beberapa rumah yang berada di suatu lokasi atau wilayah dimana terdapat juga sarana dan prasarana lingkungannya, sedangkan permukiman memberikan arti yakni kumpulan pemukim beserta sikap dan perilakunya di dalam lingkungan. Kota pada awalnya berupa permukiman dengan skala kecil, kemudian mengalami perkembangan akibat dari pertumbuhan penduduk, perubahan sosial ekonomi serta interaksi dengan kota – kota lain dan daerah hinterland.

Menurut Komarudin (1997) penyebab utama tumbuhnya permukiman kumuh adalah sebagai berikut :

 
Share

Hubungan Granger Causality Antara Kebijakan Moneter dan Pasar Saham

Share

Apa sih Granger Causality (Kausalitas Granger) itu? Kapan / bagaimana Granger Causality (Kausalitas Granger) terjadi? Granger Causality (Kausalitas Granger) Granger Causality (Kausalitas Granger) terjadi ketika perubahan satu variabel pada data time series dapat diprediksi sebelum variabel lain. Ide awal granger causality berasal dari konsep waktu yang tidak mungkin berjalan mundur. Artinya kejadian di masa lampau dapat menyebabkan kejadian di masa sekarang, tetapi kejadian di masa depan tidak dapat menyebabkan kejadian saat ini (Gujarati, 2003). Kesimpulannya, Uji Cranger Causality digunakan untuk melihat pengaruh masa lalu (lag) pada kondisi sekarang. Menurut Abdalla (2011), Uji Granger Causality dengan persamaan model Vector Autoregression (VAR). Berikut ini beberapa hasil Uji Granger Causality / Granger Causality test menurut Gu dan Gao, uji Granger Causality / Granger Causality test menurut Chen dan Gu, hasil uji Granger Causality / Granger Causality test menurut Flood dan Marion, hasil uji Granger Causality / Granger Causality test menurut Chen, hasil uji Granger Causality / Granger Causality test menurut Laopodis, hasil uji Granger Causality / Granger Causality test menurut Mishkin, hasil uji Granger Causality / Granger Causality test menurut Blinder, hasil uji Granger Causality / Granger Causality test menurut Blinder.

Uji Granger Causality / Granger causality test yang dilakukan oleh Gu dan Gao (2013) menunjukan bahwa The Fed menaikan suku bunga setelah terjadi kenaikan pada pasar saham dan menurunkan suku bunga setelah terjadi penurunan pada pasar saham. Selain itu, Chen dan Gu (2011) juga membuktikan hubungan jangka pendek antara pengumuman dari The Fed terhadap pasar saham dimana penurunan pada pasar saham terjadi secara cepat setelah the fed merubah target fed fund rate-nya.Sedangkan Flood dan Marion (2006) berpendapat bahwa rezim moneter tidak memiliki efek sistematis terhadap kemampuan prediksi harga saham untuk pertumbuhan output.

Chen (2007) menyelidiki eksistensi asymmetric effect pada tingkat pengembalian saham dalam kebijakan moneter menggunakan model Markov-switching. Data yang digunakan merupakaan bukti empiris dari data return bulanan pada indeks harga Standard & Poor’s 500. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa kebijakan moneter memiliki dampak yang lebih besar pada tingkat return saham di pasar bearish. Selain itu penelitian ini menunjukkan bahwa kebijakan moneter kontraktif memiliki probabilitas yang lebih tinggi untuk beralih ke rezim pasar bearish.

Menurut Laopodis,(2013), hubungan dinamis antara kebijakan moneter dan pasar saham dengan …

 
Share

Promosi : Pengertian Promosi, Tujuan Promosi, Media Promosi dan Bagaimana Memilih Metode Promosi

Share

Pembaca budiman, kali ini kami akan sajikan artikel tentang promosi yang meliputi  pengertian promosi, tujuan promosi, media promosi, serta bagaimana memilih metode promosi dengan tujuan pemilihan metode promosi tersebut. Oke, akan dibahas dahulu tentang pengertian promosi dan tujuan promosi,

Pengertian Promosi

Menurut Amstrong dalam Kotler (2013:46) “Promosi adalah kombinasi strategi yang paling baik dari variable periklanan, personal selling dan alat promosi lainya yang kesemuanya direncanakan untuk mencapai tujuan program penjualan”. Menurut Stanson Swastha (2013:180)  “Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah yang dilakukan oleh organisasi atau individu tertentu”. Selain itu juga diutarakan Athoilah dalam Sumarwan  (2012:109) bahwa “Promosi adalah kegiatan-kegiatan pemasaran yang mendorong efektifitas pembelian konsumen & pedagang dengan menggunakan alat seperti peragaan & demonstrasi”.

Tujuan Promosi

Tujuan promosi dapat dibagi kedalam beberapa tujuan, yaitu tujuan promosi bagi internal, promosi bagi perantara dan promosi bagi konsumen.

 
Share

Hubungan Granger Causality Antara Kebijakan Moneter dan Pasar Saham

Share

Kausalitas Granger / Granger Causality

Granger Causality terjadi ketika perubahan satu variabel pada data time series dapat diprediksi sebelum variabel lain. Ide awal granger causality berasal dari konsep waktu yang tidak mungkin berjalan mundur. Artinya kejadian di masa lampau dapat menyebabkan kejadian di masa sekarang, tetapi kejadian di masa depan tidak dapat menyebabkan kejadian saat ini (Gujarati, 2003). Kesimpulannya, Uji granger digunakan untuk melihat pengaruh masa lalu (lag) pada kondisi sekarang. Menurut Abdalla (2011), Uji Granger Causality dengan persamaan model Vector Autoregression (VAR).

Granger causality test yang dilakukan oleh Gu dan Gao (2013) menunjukan bahwa The Fed menaikan suku bunga setelah terjadi kenaikan pada pasar saham dan menurunkan suku bunga setelah terjadi penurunan pada pasar saham. Selain itu, Chen dan Gu (2011) juga membuktikan hubungan jangka pendek antara pengumuman dari The Fed terhadap pasar saham dimana penurunan pada pasar saham terjadi secara cepat setelah the fed merubah target fed fund rate-nya. Sedangkan Flood dan Marion (2006) berpendapat bahwa rezim moneter tidak memiliki efek sistematis terhadap kemampuan prediksi harga saham untuk pertumbuhan output.

Chen (2007) menyelidiki eksistensi asymmetric effect pada … 

 
Share

Pengertian/Definisi Corporate Financial Distress, Tax Avoidance, Global Financial Crisis, Growth Slowdown

Share

oleh : Sopana

Corporate financial distress

Corporate financial distress atau perusahaan yang sedang mengalami kesulitan keuangan adalah istilah umum yang sering digunakan untuk mewakili kondisi berikut : failure, insolvency, bankruptcy, dan default (Altman & Hotchkiss, 2006). Failure terjadi ketika tingkat pengembalian modal yang diinvestasikan lebih rendah dari tingkat bunga yang berlaku pada investasi yang sama atau tidak cukupnya penerimaan untuk menutupi biaya yang telah dikeluarkan. Insolvency adalah istilah yang menggambarkan dimana perusahaan tidak mampu melunasi hutang jangka pendeknya. Bankruptcy adalah istilah yang menggambarkan perusahaan dalam kesulitan keuangan kemudian dideklarasikan secara formal dalam pengadilan negeri. Default adalah istilah yang menggambarkan adanya suatu pelanggaran jangka waktu perjanjian hutang oleh perusahaan. Ada dua istilah default : technical default dan legal default. Technical default terjadi jika debitur dalam hal ini perusahaan melanggar perjanjian pinjaman. Sedangkan legal default terjadi jika debitur / perusahaan gagal memenuhi kewajiban membayar bunga ataupun pokok pinjamannya. Kedua bentuk default tersebut merupakan sinyal akan turunnya kinerja perusahaan dan keuangan yang sulit (Altman & Hotchkiss, 2006).

Perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan memiliki dorongan untuk menggeser resiko yang terjadi baik oleh pemegang saham maupun manajer (Eberhart and Senbet, 1993; Maksimovic and Titman, 1991; Thorburn, 2004). Adapun masalah pergeseran resiko yang telah lama dikenal oleh perusahaan antara lain penggantian asset yang dibiayai oleh hutang. Terdapat hubungan positif antara nilai saham dan pergerakan nilai asset yang ada di perusahaan dan hubungan tersebut akan mendorong pemegang saham untuk mengambil alih kekayaan dari pemegang obligasi dengan memindahkan asset perusahaan dalam proyek yang memiliki resiko tinggi (Galai and Masulis, 1976; Jensen and Meckling 1976). Pemegang obligasi yang baik akan mengenali perilaku penggeseran resiko tersebut, sehingga menilai hutang perusahaan dengan sebuah kepercayaan bahwa pemegang saham akan membuat pilihan investasi yang memiliki resiko tinggi (Eberhart and Senbet, 1993). Hal tersebut dapat menyebabkan tingginya biaya modal untuk membiayai perusahaan yang distress dan menetapkan biaya tersebut melalui kebijakan perusahaan yang beresiko (Edwards et al, 2013).

Corporate financial distress dan tax avoidance

Apa sih Corporate financial distress dan tax avoidance itu? yuk simak ulasan selanjutnya…

 
Share